Skip to main content

Temanggung, Moho, dan Nasi Gono



Setelah perasaan gabut maksimal di rumah kecil dengan atap galvalum yang ketika hujan seperti orang bertempur ini , akhirnya ide untuk keluar rumah muncul setelah Kang Habby berbalas chatingan di wahtshap  dengan Mas Zakki. Malam itu tiba-tiba Kang Habby berkata begini padaku,

''Wal do moro Temanggung yuh, nang umahe Jeki", katanya kepadaku. 

Aku pun berkhayal, apa yang sedang di obrolkannya dengan Mas Zakki tadi, yang tiba-tiba mengajaku untuk ke Temanggung. Usut punya usut, ternyata Kang Habby menyuruh Mas Zakki untuk datang ke Semarang. Karena ada beberapa hal yang perlu dikerjakan untuk persiapan diskusi Pra Ancang Baca yang akan dilaksanakan pada bulan Februari ini. Karena Mas Zakki agak angel orangnya, Kang Habby pun berinisiatif mengajaku ke rumahnya, sekalian mengerjakan project bersama disana.  

Oo ya kami itu beberapa bulan lalu memang satu kontrakan, sebelum pisah karena alasan purna akademik masing-masing. Dan memang sebelumnya kami menguri-nguri komunitas Ancang Baca yang hingga saat ini hehe. Dan sebentar lagi akan menggelar kelas pemikiran Prof. Qodri Azizy pada bulan Maret mendatang. 

Setelah Kang Habby berkata begitu, akupun me iya kan saja, karena memang sudah terlalu gabut di rumah yang hanya berisi 2 orang manusia yang sehari-harinya berkegiatan sama. 

"Ayuh mas, tabung ijo", kataku kepada Kang Habby. 

Dan pagi nya sekitar pukul 10.00 WIB kami pun meluncur menuju kota dengan julukan kota tembakau tersebut. Ditengah perjalanan kami pun memutuskan untuk berhenti sarapan dahulu di warung soto pinggir jalan di daerah Limbangan. Menurutku sotonya lumayan enak ditambah suasana dingin yang memang daerahnya mulai agak perbukitan menuju Sumowono. 

Memasuki daerah Sumowono hawa dingin menyelimuti kami ditengah perjalanan yang sedikit ditemani kabut tipis namun mengasikan. Maklum arek Blora dan Pati yang rumahnya berada ditengah-tengah yang hanya bisa melihat se sawahan yang panasnya begitu menyengat. Singgah di hawa dingin aku nyeletuk kepada Kang Habby, ''Ndue bojo wong kene enak yo mas, wkwk". kataku. 

Ditengah perjalanan dengan diselimuti hawa dingin dan pemandangan yang begitu membuat mata terasa lebih segar, kami pun teringat bahwa setahun yang lalu kami juga singgah ke tempat ini dan siapa sangka kala itu kami berdua nemu buah nagka yang tergeletak di jalan. tanpa pikir panjang kala itu kami ambil dan dibawa hingga ke Temanggung. 

Waktu begitu berlalu, perjalanan 2 jam setengah sampai ke rumah Mas Zakki. Sebenarnya perjalanan Ngaliyan Temanggung tak sampai ditempuh hingga ber jam-jam. Karena tadi ada rehat untuk sarapan makanya hingga 2 jam kita sampai ke rumah ber chat orange yang belum ganti setelah setahun terkahir kita pernah singgah kesini. begini foto rumahnya. 


Gimana, ciamik bukan. Rumah tengah kota yang berhimpitan dengan rumah-rumah lain layaknya rumah di Jakarta yang padat. Eit, jangan salah. Dirumah itu meskipun ditengah kota namun hawa dinginnya tetep ko seperti di rumah pegunungan. Saya pernah dengar lagu dangdut yang bernada seperti ini, "Temanggung udane deres, duwur diambung seng ngisor t****" hehe udah jangan dilanjutin. Intinya di Temanggung itu memang sering hujan dan hawanya dingin. 

Sampai dirumah mas Zakki sekitar pukul setengah 1. Kami disambut olehnya yang memang sengaja menunggu kedatangan kami. Belum duduk 15 menit tiba-tiba Kang Habby mengajak untuk ngopi diluar saja. sebelumnya mas Zakki tak mau, namun akhirnya dengan rayuan maut Kang Habby akhirnya dia ngikut apa yang diinginkan kita untuk ngopi di luar. 

Meluncurlah kita akhirnya ke daerah agak tinggi sedikit dengan rumah mas Zakki. Tempatnya sebenarnya sudah kita kunjungi beberapa minggu yang lalu, namun Kang Habby belum puas saat itu karena belum mendapatkan engle foto yang bagus untuk dijadikan arsip pribadinya katanya. Menurutku memang tempatnya begitu bagus, warung kopi yang dihimpit 2 Gunung Sindoro dan Sumbing dengan hawa dingin dan pemandangan indah yang membuat pengunjungnya ketagihan untuk kembali mengunjunginya. Nama tempat ngopinya adalah Kledung Prak. Diambil dari nama daerah yang bernama Kledung dan prak dalam bahasa Indonesianya taman, eh bener nggak si taman haha, kalau salah benerin ya. Maklum ujian TOAFL 3 kali belum juga lulus sob. Nih kulihatin foto kita beberapa minggu yang lalu singgah kesitu. 


Tuh, kelihatan bukan gunungnya. coba tebak gunung apa kui. Kami bertiga sampai disana sekitar jam 2 an. Kita menghabiskan 2 Vietnam drip satu jahe lemon dan 2 cireng goreng yang di cocol sambal kecap. Tanpa mengawasi jam di tangan, karena memang kita bertiga tak ada yang memakai jam. Bercerita, foto, hingga memandang pemandangan orang yang sedang berpacaran di sekililing kami ngopi. Bangsat. 

Di sela-sela pembicaraan kami, ada bahasan yang mengarah untuk mengajak mas Zakki untuk ke Semarang besoknya bersmaa kami, 12/2/2021. Awalnya mas Zakki mikir' dan sempat menganalisa. Setelah obrolan panjang akhirnya bujukan tersebut diterima untuk ikut ke Semarang besoknya. Karena memang momennya pas, Jumat, Sabtu, Minggu ada kegiatan MAPABA PMII Rayon Syariah. Sekalian lah temu kangen dengan sobat di Semarang katanya. 

Pukul 17.40 kami memutuskan untuk pulang ke rumah orange bertingkat tersebut. Sejenak beristirahat, tiba-tiba ada makanan nasi goreng dan jeruk peras hangat datang haha. Memang begitu ya adatnya seorang tamu itu mesti merepotkan sang punya rumah. Tapi gpp ndeng, memuliakan tamu kan termasuk pahala, benar kan sob?

Setelah makan, kami mulai menggarap project yang dari tujuan utama datang ke Temanggung untuk menggarap bersama persiapan acara Ancang Baca tersebut. Ada yang desgn, ada yang ngetik, dan bagianku ya tetap pembuat kopi, haha. Meskipun akhirnya membantu untuk desgn juga, ini dokumentasinya.


Setelah kita mengerjakan job des masing-masing, tak terasa jam menunjukan pukul 12.30 yang manandakan kita untuk mesudahinya. Meskipun kegiatan selesai namun mataku belum juga bisa untuk merem untuk tidur. Yang akhirnya aku gelelengan sambil bermain Hp untuk melihat tik tok yang menurutku videonya begitu epik untuk melihat gaya-gaya pemain sepak bola menggiring dan memasukan ke gawang dengan metode gocek atau gibang dalam bahasa Patinya. higga akhirnya pukul 02.00 aku memutuskan untuk me cas hp ku, dan al hasil aku tertidur juga diatas shofa empuk berbalut selimut warna merah yang dikasihkan bapake Mas Zakki tadi. 

Pagi pun terbit aku terbangun dengan suara Mas Zakki yang berkata seperti ini,

"Tangi-tangi meranto barang kok", cletuknya kepada kami berdua yang sedang berselimut diatas shofa. Sampai sekarang aku tak mengerti apa yang dimaksud dengan merantau dan bangun? wkwk. Karena aku merasa tak enak dengan bapake dan mamake Mas Zakki akhirnya aku bangun dan menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan ibadahku setiap bangun pagi, "Ngising". haha

Setelah dari kamar mandi, sudah tersedia teh hangat dan makanan khas Temanggung katanya makanan itu bernama Moho. Seperti ini tampilannya, 



Masa iya makanan tersebut memang khas Temanggung? begini penjelasan mbah google Kue Moho. Kue moho atau hwat kwee merupakan salah satu kue yang wajib hadir di meja makan sembahyang leluhur saat Imlek bagi etnis Tionghoa di Semarang. Awalnya, kue ini merupakan adat kebiasaan suku Hokkian di Semarang, lalu berkembang menjadi kebiasaan suku Cina lainnya di daerah ini, bahkan menyebar ke daerah lain. wealah panganane wong chino jebul lan seko Semarang ndes. 

Makanan ini menurutku seperti bakpau rasanya, namun ada sedikit rasa yang berbeda isinya berupa padat, jikalau bakpau kan coklatnya seperti coklat cair gitu.  Setelah makan makanan Moho Mas Zakki mengajak kita untuk sarapan diluar. Dan uniknya lagi makanan ini baru pertama kukenal disini, yaitu sego gono namanya. Pertama ku dengar namanya pun kukira adalah sego megono khas daerang Pekalongan, ternyata tidak Sego/ Nasi ini seperti nasi yang pernah kurasakan di kantin kopma kampus 3 yang pernah dijual Mas Farid. Kalau anak-anak kampus menyebutnya sih nama tempur. Secara bentuk dan rasa si hampir sama menurutku cuma beda kalau nasi gono ini ga pakai sambel gitu aja. 


Setelah sarapan, kita kembali untuk bersiap-siap kembali ke Semarang. Kita gelelengan lagi dan menyumet udud sembari menunggu rasa males nya hilang untuk mandi. Dan biasa saya pun ketika setelah makan penyakitnya kumat, yaitu kudu ngising, Njinguk nan. Rugi leh ku mangan panganan longko iki batinku. 

Kami pun selesai mandi semua dan akhirnya Mas Zakki pun ikut bersama kami untuk kembali ke Semarang dan melanjutkan perjuangan. hehe perjuangan untuk gabut bersama, eh tapi tenan lo gabut wong 2 karo kui bedo karo gabute wong 3 tha wong 4. Tura turu lah nanging paedah. 

Yaa begitulah kegiatanku kemarin Kamis dan Jumat yang kuisi dengan mlipir ke Temanggung. Tulisan ini sengaja kubuat hanya sebagai pangeling-ngeling yen diriku ngene-ngene yo tau nang Temanggung rek, haha khususnya di Kota Parakan. Orang yang tau bahwa parakan ini banyak sejarahnya. Salah satunya terkait penemu senjata bambu runcing yang pada saat zaman penjajah dijadikan alat untuk berperang untuk melawannya. Tokoh yang menginisiasinya/penemu bambu runcing ya dari daerah Parakan Temanggung ini yaitu adalah  K.H. Subchi dari Parakan.

Mungkin segini dulu catatanku disini semoga bisa menghibur kegabutan kalian sob. semoga di kesempatan berikutnya aku bisa berkunjung ke tempat-tempat menarik dan bersejarah lainnya di Kota Temanggung ini. 



   
Ditengah perjalanan balik ke Semarang kita mampir sebentar ke warung kopi ditengah perbukitan Kabupaten Semarang. Entah nama daerahnya aku lupa apa tapi viewnya begitu menakjubkan ya meskipun ada kabut datang menyelimuti para rerimbunan pohon yang kami lihat. tapi aku sempat men dokumentasikannya sebelum kabut itu datang. 



Semarang, 13 Februari 2021




Comments

Popular posts from this blog

Purna : Celoteh Perjalanan, Pengalaman, dan Muhasabah

Foto : Auva MH SEMARANG, (jurnalklasika) - Perjalanan setiap seorang sarjana memiliki kisah dan pengalamannya masing -   masing. Maka tak heran kita melihat bagaimana euforia mahasiswa ketika mereka diwisuda, dengan raut wajah kegembiraan menghiasi wajahnya, banyak teman silih berganti meminta foto dengannya, memberi karangan bunga, kado hadiah dll. Aku pun sering menjumpai foto seorang wisudawan di post di akun pribadi seorang temannya. Dalam benak hatinya pasti sang wisudawan tersebut merasa bangga. Bahkan ketika ada temannya yang tidak mempajang fotonya dengan memakai toga memegang bunga mawar, langsung nih di whatshap dengan kata-kata "Aku wisuda loh, di post ya, nih fotonya, hehe". Wisuda merupakan tanda bahwa seseorang telah purna akademiknya dalam tingkatan Strata 1 (S1). Bangga hati iya, namun muhasabah diri setelah lulus aku rasa juga perlu. Saat ini diriku tengah menyandang gelar yang amat berat bagiku. Lulusan dengan gelar Sarjana Hukum (S.H.) pada Fakultas Syari...

Kalian Wajib Coba Menonton Pentas Kesenian di Temanggung, Animonya Seperti Nonton Dangdut

                         Kabupaten Temanggung, yang terletak di Jawa Tengah, merupakan daerah dengan pemandangan yang indah karena diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kedua gunung ini sering disebut sebagai "gunung kembar" karena memiliki bentuk dan ketinggian yang hampir sama serta letaknya yang berdekatan. Jika Anda memiliki kesempatan untuk tinggal di Temanggung, rasakanlah sensasi kehidupan di sana. Selain tradisi nglinting, yang sangat dikenal karena mayoritas penduduknya adalah petani tembakau, pertunjukan seni di Temanggung juga telah menjadi bagian dari budaya yang tak kalah meriah dibandingkan tanggapan dangdut di daerah pesisir Pantura. Karena saya asli orang Pantura, jika di daerah seperti Pati, Demak, dan Jepara banyak orang berkerumun untuk menyaksikan orkes dangdut, di Temanggung beda. Orang-orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua, bahkan pasa...