Skip to main content

Kalian Wajib Coba Menonton Pentas Kesenian di Temanggung, Animonya Seperti Nonton Dangdut

           


        Kabupaten Temanggung, yang terletak di Jawa Tengah, merupakan daerah dengan pemandangan yang indah karena diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kedua gunung ini sering disebut sebagai "gunung kembar" karena memiliki bentuk dan ketinggian yang hampir sama serta letaknya yang berdekatan.

Jika Anda memiliki kesempatan untuk tinggal di Temanggung, rasakanlah sensasi kehidupan di sana. Selain tradisi nglinting, yang sangat dikenal karena mayoritas penduduknya adalah petani tembakau, pertunjukan seni di Temanggung juga telah menjadi bagian dari budaya yang tak kalah meriah dibandingkan tanggapan dangdut di daerah pesisir Pantura.

Karena saya asli orang Pantura, jika di daerah seperti Pati, Demak, dan Jepara banyak orang berkerumun untuk menyaksikan orkes dangdut, di Temanggung beda. Orang-orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua, bahkan pasangan muda, berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukan seni Jatilan.

Tidak mengherankan, kesenian Jatilan di Temanggung, yang juga dikenal sebagai Tari Jaran Kepang, tumbuh subur di daerah ini. Diperkirakan terdapat lebih dari 700 sanggar tari yang tersebar di setiap desa, di mana setidaknya ada satu kelompok seni di setiap desa.

        Animo Menonton Jatilan di Temanggung

              Kalau kalian ingin merasakan animo menonton Jatilan di Temanggung, jangan khawatir. Setiap minggu pasti ada pertunjukan Jatilan yang bisa dinikmati. Kesenian Jatilan di Temanggung juga sudah berbeda dari yang biasa kita lihat. Biasanya, kita melihat penari Jatilan dengan gaya khas kesurupan, makan beling, atau membuka kulit kelapa dengan gigi. Tapi di Temanggung, penampilannya sudah lebih modern dan unik.

              Kesenian Jatilan di Temanggung kini telah beranjak ke arah yang lebih modern. Jangan salah, para penari Jaran Kepang di sana tampil lebih necis dengan gaya ala prajurit perang, wajah garang, dan rambut kribo yang khas. Meskipun kadang masih ada pemain yang kesurupan sih.

              Musik yang mengiringi tarian Jatilan di Temanggung juga sudah jauh dari kata ketinggalan. Kalau biasanya kita hanya melihat kendang dan gong, di Temanggung, kesenian Jatilan sudah dilengkapi dengan satu set gamelan dan ditambah dengan organ sebagai pelengkapnya.

Menonton Jatilan di sana, para penonton diatur dengan vibes yang khas: mereka berkerumun memutar area tratak yang tengah dikosongkan untuk penari Jatilan tampil. Penontonnya pun biasanya sudah menata diri dengan sendirinya. Barisan pertama adalah anak-anak kecil, barisan kedua adalah mbah-mbah dan ibu-ibu, barisan ketiga biasanya pasangan suami istri yang menggendong anaknya, dan barisan terakhir adalah para pemuda pemudi beserta gerombolannya..

        Pertunjukan Jatilan pun Ada Tawuran

Siapa sangka, di balik gemuruh gamelan, denting orgen, dan gerak lincah para penari, ada potensi terjadinya insiden tawuran juga. Sebagian orang mungkin datang untuk menikmati seni, tapi ada juga yang hadir dengan niat lain mencari "hiburan" tambahan, kalau bisa disebut begitu.

Di Temanggung, pertunjukan Jatilan sering kali menjadi magnet bagi sekelompok pemuda yang, alih-alih menikmati seni, malah memilih adu fisik. Tawuran di lokasi pertunjukan Jatilan sudah seperti bagian dari "tradisi" tak tertulis. Mungkin karena di tempat-tempat ramai seperti ini, emosi mudah tersulut. Apalagi jika ada sekelompok pemuda dari desa sebelah yang ikut hadir, suasana bisa cepat memanas.

Ceritanya bisa bermula dari hal sepele: senggolan saat menonton, saling pandang yang dianggap menantang, atau bahkan karena masalah lama yang kebetulan terungkit kembali di tengah kerumunan. Dan ketika satu orang mulai terpancing, yang lain tak segan untuk ikut terlibat. Musik gamelan yang awalnya membawa suasana magis, tiba-tiba berubah menjadi latar belakang pertikaian yang tak diinginkan.

Tapi dalam logika itu aneh loo !!!, Biasanya tawuran yang sering saya lihat itu di pertunjukan orkes dangdut, ini bisa-bisanya terjadi di pertunjukan seni.  Padahal secara umum mereka melihat pertunjukan tersebut hanya diam dan sedakep ko bisa-bisanya tawuran.

Temanggung Layak Dijuluki Kota Seribu Seni

              Saya juga heran, kenapa di Temanggung banyak sekali kesenian yang mejamur di setiap desa. Tak hanya jatilan ada nama-nama kesenian yang memang sebelumnya saya belum pernah mendengarnya. Seperti Lengger, Warok, Sandul.

Dengan kekayaan seni dan budaya yang melimpah, mungkin memang Temanggung layak dijuluki sebagai "Kota Seribu Seni". Keindahan alamnya yang memukau dipadukan dengan warisan seni dan budaya yang kaya membuat kota ini menjadi destinasi yang menarik bagi siapa pun yang ingin menikmati keindahan dan keberagaman budaya Indonesia.

Temanggung bukan sekadar kota, tetapi sebuah cerminan dari kekayaan seni dan budaya Indonesia yang patut dilestarikan dan dijaga keberadaannya untuk generasi mendatang.

Comments

Popular posts from this blog

Purna : Celoteh Perjalanan, Pengalaman, dan Muhasabah

Foto : Auva MH SEMARANG, (jurnalklasika) - Perjalanan setiap seorang sarjana memiliki kisah dan pengalamannya masing -   masing. Maka tak heran kita melihat bagaimana euforia mahasiswa ketika mereka diwisuda, dengan raut wajah kegembiraan menghiasi wajahnya, banyak teman silih berganti meminta foto dengannya, memberi karangan bunga, kado hadiah dll. Aku pun sering menjumpai foto seorang wisudawan di post di akun pribadi seorang temannya. Dalam benak hatinya pasti sang wisudawan tersebut merasa bangga. Bahkan ketika ada temannya yang tidak mempajang fotonya dengan memakai toga memegang bunga mawar, langsung nih di whatshap dengan kata-kata "Aku wisuda loh, di post ya, nih fotonya, hehe". Wisuda merupakan tanda bahwa seseorang telah purna akademiknya dalam tingkatan Strata 1 (S1). Bangga hati iya, namun muhasabah diri setelah lulus aku rasa juga perlu. Saat ini diriku tengah menyandang gelar yang amat berat bagiku. Lulusan dengan gelar Sarjana Hukum (S.H.) pada Fakultas Syari...

Temanggung, Moho, dan Nasi Gono

Setelah perasaan gabut maksimal di rumah kecil dengan atap galvalum yang ketika hujan seperti orang bertempur ini , akhirnya ide untuk keluar rumah muncul setelah Kang Habby berbalas chatingan di wahtshap  dengan Mas Zakki. Malam itu tiba-tiba Kang Habby berkata begini padaku, ''Wal do moro Temanggung yuh, nang umahe Jeki", katanya kepadaku.  Aku pun berkhayal, apa yang sedang di obrolkannya dengan Mas Zakki tadi, yang tiba-tiba mengajaku untuk ke Temanggung. Usut punya usut, ternyata Kang Habby menyuruh Mas Zakki untuk datang ke Semarang. Karena ada beberapa hal yang perlu dikerjakan untuk persiapan diskusi Pra Ancang Baca yang akan dilaksanakan pada bulan Februari ini. Karena Mas Zakki agak angel orangnya, Kang Habby pun berinisiatif mengajaku ke rumahnya, sekalian mengerjakan project bersama disana.   Oo ya kami itu beberapa bulan lalu memang satu kontrakan, sebelum pisah karena alasan purna akademik masing-masing. Dan memang sebelumnya kami menguri-nguri komunita...