Skip to main content

Purna : Celoteh Perjalanan, Pengalaman, dan Muhasabah



Foto : Auva MH

SEMARANG, (jurnalklasika) - Perjalanan setiap seorang sarjana memiliki kisah dan pengalamannya masing - masing. Maka tak heran kita melihat bagaimana euforia mahasiswa ketika mereka diwisuda, dengan raut wajah kegembiraan menghiasi wajahnya, banyak teman silih berganti meminta foto dengannya, memberi karangan bunga, kado hadiah dll. Aku pun sering menjumpai foto seorang wisudawan di post di akun pribadi seorang temannya. Dalam benak hatinya pasti sang wisudawan tersebut merasa bangga. Bahkan ketika ada temannya yang tidak mempajang fotonya dengan memakai toga memegang bunga mawar, langsung nih di whatshap dengan kata-kata "Aku wisuda loh, di post ya, nih fotonya, hehe".

Wisuda merupakan tanda bahwa seseorang telah purna akademiknya dalam tingkatan Strata 1 (S1). Bangga hati iya, namun muhasabah diri setelah lulus aku rasa juga perlu. Saat ini diriku tengah menyandang gelar yang amat berat bagiku. Lulusan dengan gelar Sarjana Hukum (S.H.) pada Fakultas Syari'ah dan Hukum yang katanya memiliki kelebihan dibanding dengan sarjana hukum lainnya. Dahulu dosenku selalu bilang begini, "Kalian harus bangga karena sarjana hukum di UIN dengan mata kuliah sama dengan Universitas umum, tapi kalian diuntungkan dengan mempelajari materi hukum Islam juga. Ini menjadi nilai lebih dari lulusan Fakultas Syari'ah dan Hukum",. Dalam benaku, ""MOSSYOOKK".

Meskipun kata dosenku benar, tapi aku yakin mahasiswa FSH di UIN lebih suka belajar hukum positif dibanding hukum Islamnya. Iya lah hukum kita di Indonesia secara jelas memakai hukum positif, kalaupun hukum Islam itu hanya dipakai pada hukum perdata Islam seperti perkawinan, waris, dll yan diambil dari rujukan kompilasi hukum Islam dan khusus bagi agama Islam. Namun tetap bagaimanapun caranya seorang lulusan sarjana hukum UIN perlu juga bisa bersaing dengan Fakultas Hukum lain seperti UNDIP, UNNES, UNTAG terlebih kampus di Semarang. 

Sisi lain dari seorang sarjana hukum menurutku, bagaimana kita mempertanggung jawabkan gelar S.H ini bisa bermanfaat. Dengan bekerja di ranah hukum ? seperti kantor advokad, LBH, staf pemerintahan bagian hukum, konsultan hukum perusahaan atau Advokad ?.  Menurutku tidak semua memanfaatkan sarjananya dengan bekerja di ranah yang berbau hukum. 

Saat ini kesibukanku hanya sebagai seorang penulis lepas di salah satu media. Apakah pekerjaan tersebut bisa dikatakan tidak memanfaatkan S.H ku ? Aku rasa semua pekerjaan apapun pasti kita akan bersinggungan dengan hukum. Pengusaha pun begitu, baru kemarin saya melihat klausul MOU kesepakatan pihak kesatu dan pihak kedua dalam mengikat kesepakatan perjanjian mereka (baca pengusaha) juga memakai yang namanya klausul konsideran dengan menggunakan bahasa legal drafting. 

Sebagai seorang wartawan misalnya, bagaimana ketika menulis permasalahan Undang-Undang yang tengah dibahas oleh DPR kalaupun kita tak tahu alurnya pasti akan kebingungan dengan bahasa-bahasa baru tentang hukum yang jarang kita ketahui ketika tidak mempelajari ilmu hukum. Semua pekerjaan pasti akan bersentuhan dengan hukum, benar sokabat?''. "Benarr" , sorak ramai dengan riuh para pembaca wkwk. 

Aku bersyukur ketika selesai wisuda, diriku memiliki kesibukan untuk menyibukan diri untuk menambah pemasukanku sehari-hari. Meskipun orang tua selalu menuntut untuk menjadi abdi negara (baca PNS), namun aku yakin apapun yang aku lakukan saat ini pun berkat orang tua yang selalu memberi suport, doa, serta materi sejak aku kecil.

Untuk saat ini diriku belum punya pendirian tetap mau menjadi apa kedepan, keinginan-keinginan masih bersarang dalam benaku. Mungkin karena perkumpulan kali ya, seperti keinginan menjadi advokad, keinginan menjadi pengusaha, keinginan menjadi jurnalis profesional, bahkan keinginan menjadi staff presiden hahaha. Semua masih dijalani dengan rasa syukur dan iklhas insyaallah aku yakin di masa depan keinginan tersebut pasti salah satunya akan tercapai. 

Catatan ini hanya kegabutanku saja gaes maaf jika aku telat menulisnya tidak pada saat aku diwisuda pada 16 November 2021 kemarin, jikalau ada yang membacanya aku ucapkan terimakasih telah menambah view untuk blog ku, hehe. Bagi kalian sesama sarjana muda, mari kita meminjan kata-kata dari PSIS "YOH ISO YOH".. 

Salam dari Salim.. 

                                                      Foto : Auva MH

Comments

Popular posts from this blog

Kalian Wajib Coba Menonton Pentas Kesenian di Temanggung, Animonya Seperti Nonton Dangdut

                         Kabupaten Temanggung, yang terletak di Jawa Tengah, merupakan daerah dengan pemandangan yang indah karena diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kedua gunung ini sering disebut sebagai "gunung kembar" karena memiliki bentuk dan ketinggian yang hampir sama serta letaknya yang berdekatan. Jika Anda memiliki kesempatan untuk tinggal di Temanggung, rasakanlah sensasi kehidupan di sana. Selain tradisi nglinting, yang sangat dikenal karena mayoritas penduduknya adalah petani tembakau, pertunjukan seni di Temanggung juga telah menjadi bagian dari budaya yang tak kalah meriah dibandingkan tanggapan dangdut di daerah pesisir Pantura. Karena saya asli orang Pantura, jika di daerah seperti Pati, Demak, dan Jepara banyak orang berkerumun untuk menyaksikan orkes dangdut, di Temanggung beda. Orang-orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua, bahkan pasa...

Temanggung, Moho, dan Nasi Gono

Setelah perasaan gabut maksimal di rumah kecil dengan atap galvalum yang ketika hujan seperti orang bertempur ini , akhirnya ide untuk keluar rumah muncul setelah Kang Habby berbalas chatingan di wahtshap  dengan Mas Zakki. Malam itu tiba-tiba Kang Habby berkata begini padaku, ''Wal do moro Temanggung yuh, nang umahe Jeki", katanya kepadaku.  Aku pun berkhayal, apa yang sedang di obrolkannya dengan Mas Zakki tadi, yang tiba-tiba mengajaku untuk ke Temanggung. Usut punya usut, ternyata Kang Habby menyuruh Mas Zakki untuk datang ke Semarang. Karena ada beberapa hal yang perlu dikerjakan untuk persiapan diskusi Pra Ancang Baca yang akan dilaksanakan pada bulan Februari ini. Karena Mas Zakki agak angel orangnya, Kang Habby pun berinisiatif mengajaku ke rumahnya, sekalian mengerjakan project bersama disana.   Oo ya kami itu beberapa bulan lalu memang satu kontrakan, sebelum pisah karena alasan purna akademik masing-masing. Dan memang sebelumnya kami menguri-nguri komunita...