Skip to main content

Posts

Kalian Wajib Coba Menonton Pentas Kesenian di Temanggung, Animonya Seperti Nonton Dangdut

                         Kabupaten Temanggung, yang terletak di Jawa Tengah, merupakan daerah dengan pemandangan yang indah karena diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kedua gunung ini sering disebut sebagai "gunung kembar" karena memiliki bentuk dan ketinggian yang hampir sama serta letaknya yang berdekatan. Jika Anda memiliki kesempatan untuk tinggal di Temanggung, rasakanlah sensasi kehidupan di sana. Selain tradisi nglinting, yang sangat dikenal karena mayoritas penduduknya adalah petani tembakau, pertunjukan seni di Temanggung juga telah menjadi bagian dari budaya yang tak kalah meriah dibandingkan tanggapan dangdut di daerah pesisir Pantura. Karena saya asli orang Pantura, jika di daerah seperti Pati, Demak, dan Jepara banyak orang berkerumun untuk menyaksikan orkes dangdut, di Temanggung beda. Orang-orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua, bahkan pasa...
  Akhir-akhir ini aku suka sekali mendengarkan lagu indie. Menurutku untuk menemukan ide dalam pikiranku, kupikir lagu indie merupakan salah satu genre yang tepat untuk menemukan ide. Ditambah lagi gejolak perasaanku yang sejak beberapa minggu ini sedang gundah. Banyak faktor memang yang membuatku bisa untuk mendengarkan lagu tersebut.  Pekerjaan yang memang tidak fokus membuatku keberatan untuk menyelesaikan semua. Secara konteks semua pekerjaanku sangatlah berbeda, yang satu dalam ranah hukum, yang satu digital marketing, dan yang terakhir pekerjaan yang memang menjadi hobiku yaitu menulis.  Semua itu kulakukan dengan tanpa terkonsep, terstruktur, dan terarah pastinya. Maka untuk saat ini aku masih kebingungan, sebenarnya mau kemana arahku untuk menentukan masa depanku. Tapi dari semua yang aku kerjakan, syukur alhamdulillah aku ditemukan dengan orang-orang baik yang masih memperhatikanku. Semua pekerjaanku dibayar dengan batas kemampuanku. Ya lumayan lah bisa untuk mem...

Purna : Celoteh Perjalanan, Pengalaman, dan Muhasabah

Foto : Auva MH SEMARANG, (jurnalklasika) - Perjalanan setiap seorang sarjana memiliki kisah dan pengalamannya masing -   masing. Maka tak heran kita melihat bagaimana euforia mahasiswa ketika mereka diwisuda, dengan raut wajah kegembiraan menghiasi wajahnya, banyak teman silih berganti meminta foto dengannya, memberi karangan bunga, kado hadiah dll. Aku pun sering menjumpai foto seorang wisudawan di post di akun pribadi seorang temannya. Dalam benak hatinya pasti sang wisudawan tersebut merasa bangga. Bahkan ketika ada temannya yang tidak mempajang fotonya dengan memakai toga memegang bunga mawar, langsung nih di whatshap dengan kata-kata "Aku wisuda loh, di post ya, nih fotonya, hehe". Wisuda merupakan tanda bahwa seseorang telah purna akademiknya dalam tingkatan Strata 1 (S1). Bangga hati iya, namun muhasabah diri setelah lulus aku rasa juga perlu. Saat ini diriku tengah menyandang gelar yang amat berat bagiku. Lulusan dengan gelar Sarjana Hukum (S.H.) pada Fakultas Syari...

Sarjana Hukum Secara De Jure

     Tulisan ini hanya sedikit curhatan pengalamanku yang sengaja aku tulis sebagai pengingat untuk mendokumentasikan  bagaimana proses skripsi ini terselesaikan. Banyak pengalaman serta hiruk pikuk pengerjaannya selama 4 sampai 5 bulanan ini. Skripsi dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan Dalam Meliput Aksi Demonstrasi Berujung Tindakan Represfi Aparat (Studi Kasus Di Kota Semarang Aksi Tolak Omnibus Law)” ini menjadi penanda bagiku menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H) meskipun masih diakui secara De Jure. Aku  ingat kala itu skripsi ini disetujui pada tanggal 23 November 2020. Ada beberapa opsi judul yang menjadikan kebimbangan bagiku waktu itu. Pertama, ingin mengambil pembahasan tentang murtad, namun aku kira banyak suda yang mengkajinya, lalu tentang analisis putusan peradilan negeri di Pati, aku pikir kurang menarik jikalau hanya analisis sebuah putusan. Ada juga kala itu dipikiranku tentang mediasi penal, namun semua opsi itu akhirnya ku singk...

Temanggung, Moho, dan Nasi Gono

Setelah perasaan gabut maksimal di rumah kecil dengan atap galvalum yang ketika hujan seperti orang bertempur ini , akhirnya ide untuk keluar rumah muncul setelah Kang Habby berbalas chatingan di wahtshap  dengan Mas Zakki. Malam itu tiba-tiba Kang Habby berkata begini padaku, ''Wal do moro Temanggung yuh, nang umahe Jeki", katanya kepadaku.  Aku pun berkhayal, apa yang sedang di obrolkannya dengan Mas Zakki tadi, yang tiba-tiba mengajaku untuk ke Temanggung. Usut punya usut, ternyata Kang Habby menyuruh Mas Zakki untuk datang ke Semarang. Karena ada beberapa hal yang perlu dikerjakan untuk persiapan diskusi Pra Ancang Baca yang akan dilaksanakan pada bulan Februari ini. Karena Mas Zakki agak angel orangnya, Kang Habby pun berinisiatif mengajaku ke rumahnya, sekalian mengerjakan project bersama disana.   Oo ya kami itu beberapa bulan lalu memang satu kontrakan, sebelum pisah karena alasan purna akademik masing-masing. Dan memang sebelumnya kami menguri-nguri komunita...