Skip to main content

Sarjana Hukum Secara De Jure

 

  

Tulisan ini hanya sedikit curhatan pengalamanku yang sengaja aku tulis sebagai pengingat untuk mendokumentasikan  bagaimana proses skripsi ini terselesaikan. Banyak pengalaman serta hiruk pikuk pengerjaannya selama 4 sampai 5 bulanan ini. Skripsi dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan Dalam Meliput Aksi Demonstrasi Berujung Tindakan Represfi Aparat (Studi Kasus Di Kota Semarang Aksi Tolak Omnibus Law)” ini menjadi penanda bagiku menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H) meskipun masih diakui secara De Jure.

Aku ingat kala itu skripsi ini disetujui pada tanggal 23 November 2020. Ada beberapa opsi judul yang menjadikan kebimbangan bagiku waktu itu. Pertama, ingin mengambil pembahasan tentang murtad, namun aku kira banyak suda yang mengkajinya, lalu tentang analisis putusan peradilan negeri di Pati, aku pikir kurang menarik jikalau hanya analisis sebuah putusan. Ada juga kala itu dipikiranku tentang mediasi penal, namun semua opsi itu akhirnya ku singkirkan karena ku anggap terlalu bertele-tele nantinya pada saat pengerjaan. Dan akhirnya terpikirlah mengambil judul tentang perlindungan hukum, sebagaimana kala itu aku ingat tentang skripsi yang pernahku baca salah satu teman sekelasku. Namanya Syeh Ali, dia mengambil pembahasan tentang perlindungan hukum terkait guru yang memberikan tindakan pendidikan yang akhirnya di bawa ke ranah hukum. Maka mulai saat itulah skripsinya aku pakai sebagai bahan referensiku.

    Dalam pejalanan mengerjakannya, hiruk pikuk memang ada. Aku sangat berterimakasih kepada seluruh teman yang telah membantu untuk menyelesaikan skripsi ini. Salah satunya adalah Mas Habby, Mas Bagus, Mukti, Lutfi, Aziz, Auva, Asyiroh, Ulin dkk. Yang pada saat pengerjaan saya repoti dalam hal apapun.

 Pengerjaan Skripsi

                Pengerjaan skripsi ini ku mulai kira-kira sejak bulan Desember setelah wali dosen dan kajur prodi me acccnya. Kebetulan, dan mendapat pembimbing skripsi hanya satu yaitu Dr. Agus Nurhadi M,Ag. beliau begitu hamble terhadap mahasiswanya. Banyak yang bilang kalau dibimbing oleh beliau merasa dimudahkan tak terkecuali aku. pertama kali mengajukan surat penunjukan pembimbing saya langsung meminta arahan untuk apa yang perlu saya kerjakan. Ku kira bikin proposal terlebih dahulu, ternyata tidak, belum apa-apa saya disuruh mengerjakan bab 3 terlebih dahulu. Lalu saya menanyakan dong, mengapa langsung bab 3 "Pak, mohon maaf saya belum mengumpulkan proposal skripsi saya ke panjenengan" dan tau apa kata bapaknya? dia jawab "Latar belakang dan proposal diberesin belakangan saja, sekarang kerjakan bab 3, kira-kira 25 halaman, waktu 2-3 minggu". haha oke dihati turut bangga juga sih karena langsung ke penelitiannya. 

            Ouh iya guys, di Fakultas Syari'ah dan Hukum di Universitasku ngga ada ya yang namanya ujian proposal. Jadi proposal itu hanya di bab 1 secara global menjelaskan metode penelitian yang diambil serta kerangka teorinya saja. Jangan samakan ya dengan fakultas kalian yang setelah sidang proposal euforianya udah kaya lulusan terbaik dengan karangan bunga di tata dibawahnya lalu foto diatas karangan bunganya kaya mau nyekar aja, wkwkwk hilih. 

               Setelah mendapat utusan dari pembimbingku, aku lanjut untuk meminta surat pengantar dari fakultasku untuk penelitian di Lembaga Bantuan Hukum Semarang (LBH Semarang), dan Aliansi Jurnalis Independen Semarang (AJI Semarang). Namun ternyata pelayanan online di Fakultas ini sangatlah ribet, mau minta surat pengantar saja aku harus nungguin 2 minggu. Hanya satu alasan yang melatarbelakangi suratnya susah keluar apa coba, di surat permohonan yang kubuat katanya tidak mencantumkan nama LBH nya, dan aku menjelaskan memang nama lembaganya LBH Semarang yaitu cabang dari YLBHI Pusat. Tapi pihak fakultas tetep kekeh dengan pendapatnya bahwa ada nama LBH nya. duh gustii jaluk disuwuk ancen "(). Dan akhirnya aku browsing scenshoot ku kirimkan via whatshap fakultas. Akhirnya dia percaya bahwa memang ada nama lembaga bantuan hukum yang hanya ada embel-embel Semarangnya, hmm kan telek.. 

            Setelah mendapatkannya, lalu aku menghubungi kedua lembaga tersebut untuk meminta izin akan penelitian kesana. Akhirnya aku diterima oleh pihak LBH Semarang melalui bantuan salah satu teman saya Dhika teman di PMII yang sedang bekerja disana. Setelah ke LBH aku meluncur ke AJI Semarang, dan alhamdulillah baiknya disambut langsung oleh ketua AJI Semarang mas Edi. Beliau merupakan alumni juga di kampusku fakultas dakwah. Data-data dengan pertanyaan yang ngga begtu penting aku rekam. Kala itu wawancara dengan LBH Semarang kan online melalui telepon whatshap dengan Bang Alvi Afriansyah dan gobloknya diriku wawancaranya ngga kerekam kan muspro... Tapi untungnya aku inget inti-inti dari wawancaranya dan mendokumentasikannnya.

        Foto tersebut cukuplah sebagai bukti bahwa saya benar-benar wawancara dengan bang Alvin dengan kuatkan dengan menit disana terlihat 45 menit. 
            
             Setelah mendapatkan data dll proses pengerjaannya begitu mudah, karena di fakultasku tidak ada yang namanya cek turnitin dsb jadi proses penulisan begitu cepat. sat set sat set sehari satu bab, hehe. Selesai bab 3 baru aku mengerjakan bab 1 dan 2. proses pengerjaan dan bimbingan tak begitu rumit. pembimbingku hanya merevisi beberapa format tulisan dan tata letak pembahasan. Secara isinya beliau fair" saja ngga ada yang dipermasalahkan. 

            Lanjut bab 4 dan 5, revisi hanya sekali dan akhirnya pada ramadhan kemarin skripsiku selesai dengan  nilai dari  pembimbing 7,8. Itupun aku udah capek disuruh revisi terus akhirnya aku meminta kepada beliau untuk semoga segera disahkan dan melanjutkan memikirkan suket-suket yang menghalangiku untuk lulus. yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKL). 

            Aku menanyakan kepada seluruh adik kelas yang kebetulan adalah pejabat-pejabat HMJ dan DEMA di fakultasku untuk kapan dilaksanakannya KKL dari bulan Januari. Kutunggu dan kutunngu namun belum juga ada kejelasan dari pihak fakultas. Aku udah berdosa sama orang tuaku karena bilang bahwa aku udah sidang sejak Maret lalu dan tinggal wisuda hehe. Hal ini aku lakukan ya demi meluluhkan orang tuaku agar tidak berpikiran bahwa anaknya tidak lulus-lulus. alasanku ya satu suket yang bernama KKL inilah biang keroknya. yaa ini kesalahanku sih karena memang waktu semester 3 an 5 aku jarang masuk kuliah dan males mengambil mata kuliah syarat. 

        Di akhir semester genap yang saat ini aku di semester 10 ini, sehabis lebaran kemarin munculah pengumuman KKL dan tercantumlah namaku. "Akhirnya bisa juga menghabiskan sisa-sisa SKS yang mengahmbat masa lulusku", gumamku dalam hati ketika tahu bahwa KKL telah dijadwalkan. Prosesnya melalui online, karena pandemi COVID-19 ini begitu tinggi di Jakarta dan Jawa Barat. Akhirnya yasudah impian untuk berswafoto ria di depan gedung KPK, MK, MA dan Gedung Senayan pupuslah sudah. Hanya bisa berdiskusi dengan para pejabatnya melalui Zoom. Seluruh rangkaian KKL akhirnya kulalui ikut zoom, absen, membuat laporan dll. Dan nilai pun keluar aku ingat betul saat itu tanggal 21 Juni malam.

Sidang Skripsi

        Setelah nilai KKL keluar di walisiadik UIN, akhirnya aku berbegas di hari Selasanya untuk meminta transkip nilai ke fakultas. Dan aku bisa mendaftar di hari rabunya untuk sidang skripsi ini. karena memangsetelah lebraan kemarin aku mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan pada saat pendaftaran sidang mulai dari KK, Ijazah, Akte, dll. Akhirnya pada hari Kamis Kajur mengabarkan bahwa Jumat tanggal 25 Juni 2021 namaku tecantum di draf berita acara sidang munaqosah pada hari itu. dengan 4 penguji yaitu Bp. Ja'far sebagai ketua sidang, Bp. Agus Nurhadi, Bp. Tolkhatul Khoir, dan Bp. Ismail Marzuki. 

          Saya pikir sidang skripsi itu seperti yang ada di flim-flim, dengan tegang dan serius menerangkan hasil penelitiannya. Ternyata anggapanku salah, sejak malam sebelum aku sidang rasanya sudah deg-deg annya bukan main. Bagaimana jika aku tak bisa jawab dengan di cecar pertanyaan-pertanyaan yang begitu rumit batinku. Sidang yang ku jalani meskipun hampir seminggu karena menunggu balasan satu dosen yang tak kunjung diberi kejelasan, tapi semuanya berjalan begitu mengsikan. Pertama pak Agus, sidang dengan beliau aku hanya diajak ngbrol seputar COVID di Ngaliyan dan sekitarnya. Ehh ternyata pada saat beliau mengujiku, beliau sedang ISOMAN kata temanku. Penguji kedua Pak Ismail Marzuki, meski detail mengkritisi isi dari penelitianku dan penulisanku tapi beliau begitu santai mengujiku dengan memberi masukan-masukan yang baik. kedua penguji ini dilaksanakan sesuai jadwal pada hari Jumat 25 Juni 2021.

        Pada hari sabtunya, Tanggal 22 Juni sidang ketiga dengan dosen yang memang terkenal killer guys. Iya beliau pak Jakjar, aku sidang dengan beliau pada jam 4 sore sebagaimana dijanjikan oleh beliau sendiri. Sidang melalui Gmett dengan menggunakan PPT, aku disuruh menjelaskan 10 menit penelitianku. Sudah kuduga disitu aku dibentak-bentak dianggap nggak jelas penelitianku karena tidak menjelaskan bagaimana proses perlindungan hukumnya. Katanya nih katanya perlindungan hukum wartawan ini sama dengan perlindungan hukum konsumen. Akhirnya revisianku menumpuk belum ditambah lagi revisianku dengan pak Ismail yang sama bagitu banyak. hasihss mbuh. 

        Dan yang terakhir adalah Pak Tolkhah sejak Kamis aku menghubungi sampai hampir kamis lagi tak ada respon yang disampaikannya. Satu minggu menunggu kejelasan dari beliau. Yang akhirnya aku telepon beliau dengan memberanikan diri dan dijadwalkan hari Rabu tepat paa tanggal terakhir ujian munaqosah di FSH 30 Juni 2021. Ujian berjalan lancar tanpa adanya halangan, dan akhirnya sah lah diriku menyelesaikan skripsi ini secara de jure.

        Aku banyak berterimakasih kepada seluruh kawan-kawanku yang telah membantu serta me suport atas terselesaikannya skripsi ini dan resmi diriku sekarang bertambah gelar Sarjana Hukum. Tak ada kata-kata yang bisa kuucap hanya dengan kalimat Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat karunia yang engkau ciptakan kepadaku. Aku sangat berterimakasih khususnya kepada kedua orang tuaku sebagaimana beliau berdua telah memberikan suport secara penuh dan perhatainnya kepada anaknya ini dengan menanyakannya kapan adinda Muhammad Waliyuddin ini lulus..  kawan-kawan seerjuanganku Auva, Ulin, Asyiroh kawan upyek sejak Smt 1 teman curhat, guyon, dimana menjadi semangatku untuk tetap belajar dimanapun dan kapanpun. Terkhusus Mas-mas ku yang sekarang tinggal bersamaku Mas Habby, mas Bagus, mas Yazid orang-orang hebat yang telah mengajarkanku semua hal. 

        Mungkin cukup hal itu yang bisa aku sampaikan diuraian yang tak begitu penting ini. Tulisan ini hanya sebatas curhatan yang tak lebih dari apapun. Intinya persiapan untuk menuju penyelesaian skripsiku tidak ada hal yang kupersiapkan begitu rumit. Bisa dilihat sampai jepitan skripsi saja aku tak mempersiapkannya, Power Point saja meminta template kepada Ambarwati bekas dirinya sidang. haha.. yasudah  terimakasih jikalau anda membaca ini semoga menjadi bacaan yang bisa menyemangati kawan-kawan diluaran sana untuk tetap semangat mengerjakan skripsinya. 

Wassalamualaikum. Wr. Wb

            



Salam dari Muhammad Waliyuddin, S.H

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Purna : Celoteh Perjalanan, Pengalaman, dan Muhasabah

Foto : Auva MH SEMARANG, (jurnalklasika) - Perjalanan setiap seorang sarjana memiliki kisah dan pengalamannya masing -   masing. Maka tak heran kita melihat bagaimana euforia mahasiswa ketika mereka diwisuda, dengan raut wajah kegembiraan menghiasi wajahnya, banyak teman silih berganti meminta foto dengannya, memberi karangan bunga, kado hadiah dll. Aku pun sering menjumpai foto seorang wisudawan di post di akun pribadi seorang temannya. Dalam benak hatinya pasti sang wisudawan tersebut merasa bangga. Bahkan ketika ada temannya yang tidak mempajang fotonya dengan memakai toga memegang bunga mawar, langsung nih di whatshap dengan kata-kata "Aku wisuda loh, di post ya, nih fotonya, hehe". Wisuda merupakan tanda bahwa seseorang telah purna akademiknya dalam tingkatan Strata 1 (S1). Bangga hati iya, namun muhasabah diri setelah lulus aku rasa juga perlu. Saat ini diriku tengah menyandang gelar yang amat berat bagiku. Lulusan dengan gelar Sarjana Hukum (S.H.) pada Fakultas Syari...

Kalian Wajib Coba Menonton Pentas Kesenian di Temanggung, Animonya Seperti Nonton Dangdut

                         Kabupaten Temanggung, yang terletak di Jawa Tengah, merupakan daerah dengan pemandangan yang indah karena diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kedua gunung ini sering disebut sebagai "gunung kembar" karena memiliki bentuk dan ketinggian yang hampir sama serta letaknya yang berdekatan. Jika Anda memiliki kesempatan untuk tinggal di Temanggung, rasakanlah sensasi kehidupan di sana. Selain tradisi nglinting, yang sangat dikenal karena mayoritas penduduknya adalah petani tembakau, pertunjukan seni di Temanggung juga telah menjadi bagian dari budaya yang tak kalah meriah dibandingkan tanggapan dangdut di daerah pesisir Pantura. Karena saya asli orang Pantura, jika di daerah seperti Pati, Demak, dan Jepara banyak orang berkerumun untuk menyaksikan orkes dangdut, di Temanggung beda. Orang-orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua, bahkan pasa...

Temanggung, Moho, dan Nasi Gono

Setelah perasaan gabut maksimal di rumah kecil dengan atap galvalum yang ketika hujan seperti orang bertempur ini , akhirnya ide untuk keluar rumah muncul setelah Kang Habby berbalas chatingan di wahtshap  dengan Mas Zakki. Malam itu tiba-tiba Kang Habby berkata begini padaku, ''Wal do moro Temanggung yuh, nang umahe Jeki", katanya kepadaku.  Aku pun berkhayal, apa yang sedang di obrolkannya dengan Mas Zakki tadi, yang tiba-tiba mengajaku untuk ke Temanggung. Usut punya usut, ternyata Kang Habby menyuruh Mas Zakki untuk datang ke Semarang. Karena ada beberapa hal yang perlu dikerjakan untuk persiapan diskusi Pra Ancang Baca yang akan dilaksanakan pada bulan Februari ini. Karena Mas Zakki agak angel orangnya, Kang Habby pun berinisiatif mengajaku ke rumahnya, sekalian mengerjakan project bersama disana.   Oo ya kami itu beberapa bulan lalu memang satu kontrakan, sebelum pisah karena alasan purna akademik masing-masing. Dan memang sebelumnya kami menguri-nguri komunita...